Kamis, 09 Mei 2013

Tangisan Seorang Ibu


Tadi setelah shalat maghrib, seorang ustazd berceramah dengan mengangkat tema “ Anak Durhaka”. Beliau memulai ceramahnya dengan menceritakan kisah nyata yang di alami seorang ibu di Gampong  Pineung yang datang curhat kepadanya.

Ibu tersebut curhat kepada ustazd tadi dengan mengatakan bahwa ia sudah kehilangan anak laki-laki berumur 25 tahun. “ Kehilangan bagaimana maksud ibu? “ Tanya ustadz. Ibu itu menjawab dengan terisak tangis“ Sejak anak lelakinya menikahi seorang gadis, tidak pernah lagi mengunjungi saya. Istrinya melarang suaminya mengunjungi ibunya ini. Bahkan sa’at istrinya hamil, seperti kebiasaan orang Aceh mengantarkan nasi( intat bu) kerumah si istri. Maka pada hari itu saya ditemani seorang teman pergi ke rumah menantu saya dengan membawa nasi tersebut. Sesampai dirumah tidak ada orang yang menyambut walaupun pintu rumah terbuka. Sehingga saya langsung masuk dan meletakkan nasi tersebut diatas meja. Kemudian kami pulang kerumah teman saya dengan hati sedih. Setelah 2 jam kemudian, saya pulang ke rumah sendiri. Tanpa saya duga, nasi yang saya antar tadi ke rumah si istri, diantar balik ke rumah. Betapa sakitnya hati saya ini”
Kisah ini memiliki kesamaan dengan kisah Alqamah. Seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang taat, wara’ dan kuat beribadah. Beliau juga kurang memperhatikan ibunya setelah ia menikah sehingga membuat hati ibunya kecewa dan berkecil hati kepada Alqamah. Sehingga sa’at Alqamah mau sakaratul maut ia tidak bisa membaca kalimat tauhid; LA ILAAHA ILLALLAH. Tapi setelah beliau mendapatkan kema’afan dari ibunda tercinta, ia dapat membaca kalimat tauhid kembali. Ia kembali dengan tenang dan wajah berseri seri.

Itu lah sedikit nukilan ceramah singkat mungkin bisa menjadi pelajaran bagi kita semua yang bahwa kita wajib memperhatikan ibu kita walaupun kita sudah menikah nantinya. Ibu itu hanya seorang dan tak tergantikan dengan siapapun tapi istri bisa kita cari lain. Kalau istri kita baik tidak akan melarang suaminya mengunjungi ibunya sendiri. Karena setelah menikah terjadi, maka orang tua istri adalah orang kita, begitu juga sebaliknya orang tua kita adalah orang tua istri. Maka alangkah baiknya sebelum menikah  seorang suami-istri harus berjanji seperti demikian agar terjadi hubungan yang harmonis diantara dua keluarga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Entri Populer

Laman

Pengikut

statistik